West Papua Today

Jangan pernah lupa dengan Sejarah

Perlukah Pemekaran Kodam di Papua?

Suhu politik di Papua meningkat. Upaya dialog Papua-Jakarta belum menemukan titik terang. Perjuangan untuk menyelesaikan berbagai isu di bidang ekonomi, sosial, budaya dan politik pun belum berhasil.
Dalam situasi demikian, kaum elite di Jakarta malah bersuara memekarkan Kodam Papua. Apakah pemekaran Kodam di Papua mampu meredam gerakan pro kemerdekaan Papua?

Indonesia memiliki kekuatan militer yang dapat diandalkan di dunia internasional. Walaupun peralatan perang masih jauh tertinggal, Indonesia memiliki strategi andal.

Kemampuan strategi militer Indonesia dapat dilihat melalui berbagai operasi militernya di negeri sendiri. Akan tetapi, strategi militer Indonesia dipudarkan oleh operasi militer di Aceh, Papua dan Timor Leste.

Yang paling tragis adalah operasi militer di Aceh dan Timor Leste. Banyak manusia tidak berdosa dibantai demi sebuah ideologi negara yang menempatkan Tuhan di atas segalanya. Sila pertama Pancasila menyebutkan: “Ketuhanan Yang Maha Esa,”
namun, ribuan anak manusia mati di Aceh, Papua dan Timor Leste. Di pihak militer pun banyak nyawa melayang untuk membela negara. Akhir semua peristiwa ini adalah “kekalahan” militer Indonesia. Timor Leste berhasil memisahkan diri dari NKRI. Rakyat Aceh kembali hidup damai melalui perundingan Helsinki. Bagaimana dengan Papua?
Papua sebagai salah satu wilayah bekas Daerah Operasi Militer (DOM) sejak 1963-1998, ia memiliki sejarah perjuangannya sendiri. Banyak korban masih trauma akibat tindakan militerisme yang dialami selama masa pemberlakuan DOM.

Banyak orang Papua mati dibunuh tanpa sebab dan alasan yang jelas. Banyak anak-anak Papua kehilangan orang tua akibat operasi militer itu.
Trauma, jengkel, dan marah kadang masih menyelimuti orang Papua ketika melihat militer Indonesia di Papua. Ada sedikit angin segar ketika arus reformasi bergulir. Orang Papua bisa “bernapas lega”. Status Papua sebagai DOM dicabut. Luka-luka mulai terobati, walaupun bekas-bekasnya tetap ada.

Pemekaran Kodam di Papua ibarat membuka luka lama. Orang Papua sudah sangat menderita selama 46 tahun sejak 1963.
Rangkaian operasi militer mengorbankan ribuan jiwa manusia Papua yang tidak berdosa. Jerit-tangis anak-anak Papua yang kehilangan orang tua korban operasi militer tak kunjung henti.

Ribuan jiwa meninggalkan tanah tumpah darahnya. Mereka lari ke negara tetangga, Papua New Guinea, untuk menyelamatkan diri dari kekejaman militer kala itu.

Perlahan penderitaan itu mulai reda pasca penghentian DOM. Berangsur-angsur para pengungsi pulang ke tanah kelahirannya. Bahkan Indonesia mengakui kekejaman militer terjadi di Papua. tanahnya?

Pendekatan militer tidak akan pernah menyelesaikan persoalan di Papua. Sejarah Timor Leste dan Aceh menjadi saksi bisu akan hal itui. Sebaliknya, melahirkan berbagai permasalahan baru.

Oleh karena itu, rencana pembukaan Kodam baru di Papua harus dihentikan. Lupakan pemekaran Kodam. Bangun dialog kemanusiaan di Papua.

Hakikat perjuangan orang Papua ialah kesamaan martabat sebagai manusia. Orang Papua menuntut haknya sebagai manusia pemilik tanah Papua.

Mereka berjuang bahkan dengan darah dan nyawa demi kebenaran dan keadilan. Mereka minta berbagai kasus pelanggaran HAM diselesaikan dan sejarah Papua diluruskan. Karenanya, mereka minta dialog.
Ide dialog kemanusiaan damai sudah lama disuarakan, tetapi tidak pernah ditanggapi oleh pemerintah Jakarta.

Memang menggelar sebuah dialog yang adil, jujur dan damai di Papua dengan 250 suku tidak mudah.

Namun, hal ini mendesak dan harus dilaksanakan demi perdamaian di tanah Papua.

Petrus P. Supriadi

Mei 31, 2010 - Posted by | Facility, Opinion, Otsus

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: