West Papua Today

Jangan pernah lupa dengan Sejarah

Perubahan Ekonomi Menghilangkan Budaya Masyarakat Papua

JUBI—Kepala Badan Pengelola Statistik (BPS) Kota Jayapura, Papua, Muchlis M. Sotting mengungkapkan, perubahan ekonomi dinilai menghilangkan budaya masyarakat Papua secara umum. Perubahan ini juga mempengaruhi pola pikir dan karakter masyarakat Masyarakat Papua sudah melupakan makanan pokoknya yakni sagu.

Saat banyak sagu ditebang dengan bebas tanpa dilarang. Tindakan ini dilakukan demi susksesnya pembangunan di suatu daerah. Hal tersebut saat ini marak terjadi diantara masyarakat. “Masyarakat ijinkan saja sagu ditebang tanpa berpikir panjang,” kata Muchlis di Abepura, Senin (25/1). Tindakan ini dilakukan tanpa memikirkan generasi akan datang. Padahal pohon sagu tersebut merupakan makanan pokok bagi orang Papua. Orang Papua lebih banyak dibesarkan oleh para orang tua yang telah mendahului mereka dengan sagu.
Hal ini mengakibatkan, lanjut dia, pola makan masyarakat berubah secara tiba-tiba. Masyarakat sudah tidak lagi mencintai makanan pokoknya yakni sagu. Mereka (masyarakat) meninggalkan pola makannya dengan beralih ke makanan yang serba instant dan cepat, tanpa memasak dan berupaya untuk masak. Mereka dimanjakan dengan makanan siap saji yang telah banyak tersedia. Misalnya, supermi, pop mie, dan makanan siap saji lainya. “Padahal kalau makan sagu atau papeda itu enak skali. Apa lagi ditambah dengan ikan,” tandasnya. Dia mengatakan, selain pola makan berubah, perilaku masyarakat juga ikut berubah. Masyarakat yang dulunya rajin menokok sagu atau berburu ke hutan saat ini sudah tidak melakukannya lagi. Kebiasaan mereka semakin bergeser jauh dari para leluhurnya. Hal-hal ini dinilai sangat berbahaya bagi generasi muda mendatang. Generasi muda dengan sendirinya akan melupakan makanan pokoknya bahkan diperparah lagi tidak bisa mengkonsumsi makanan pokoknya.
“Ini perlu diperhatikan bersama, baik pemerintah maupun masyarakat,” paparnya. Perubahan pola makan ini akan menimbulkan berbagai macam penyakit yang bermunculan ditengah masyarakat. Diantaranya, malaria, HIV/AIDS, kusta dan lainnya. “Dulu tidak banyak penyakit, masyarakatnya sehat-sehat,” katanya. Padahal hidupnya sangat sederhana dan penuh keterbatasan. Pola makan mereka masih alamiah yakni banyak bergantung pada alam. Lelaki yang baru lima hari mengabdi di BPS Kota Jayapura ini menuturkan, perubahan lainnya yang juga mengubah pola pikir dan gaya hidup masyarakat adalah perubahan teknologi, perubahan pendidikan, pola pembangunan, dan kemajemukan penduduk. Suasana ini semakin memacu sekaligus memaksa masyarakat untuk cepat menyesuaikan diri dengan perkembangan yang ada. Sehingga masyarakat sudah tak lagi memusingkan dirinya dengan kerabatnya. Padahal kekeluargaan, kesatuan dan kerukunan yang dibangun oleh para orang tua pada zaman sebelum reformasi sangat kuat. Kesatuan dan kerukunan disuatu daerah dijaga dengan baik. Masyarakatnya sangat ramah dan sopan, terbuka bagi siapa saja. Namun setelah reformasi, kebiasaan baik ini ditelan waktu dengan cepat. Bagi dia, disatu sisi perubahan itu baik bagi masyarakat. Namun disisi lain perubahan tersebut memporak-porandakan kehidupan masyarakat. Selain itu, hadirnya sebuah pembangunan bisa merusak alam sekitar tempat dimana proses pembangunan itu berlangsung. Ia berharap, pemerintah perlu menyeimbangkan pola pembangunan yang dilakukan dengan alam sekitar tempat dimana pembangunan dilaksanakan. Dengan demikian, maka tak menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat.

Sumber : Tabloidjubi.com

April 28, 2010 - Posted by | Culture, Economics |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: