West Papua Today

Jangan pernah lupa dengan Sejarah

Dialog menuju perdamaian Bagi Papua

Written by Lambang Triyono

Perdamaian tidak akan terwujud kalau kelompok-kelompok konflik tidak diajak berunding, duduk dan berdialog, untuk menemukan perdamaian, bahkan terhadap kelompok paling radikal, atau separatis sekalipun. Keberhasilan perdamaian Aceh membuktikan, perundingan dengan GAM yang dulunnya dianggap tidak mungkin dilakukan itu, akhirnya toh bisa dijalankan, dengan berbagai diplomasi pemerintah dan sipil, sehingga mereka akhirnya dialog bisa diselenggarakan dan akhirnya perdamaian dicapai.

Demikian pula dalam kasus Papua, peluang itu mungkin dilakukan, dialog bisa dilakukan, dengan mengajak kelompok OPM sekalipun, sehingga perdamaian bisa dicapai. Dialog, diplomasi, perundingan, merupakan cara paling baik mengatasi konflik untuk mewujudkan perdamaian. Demikian itu, suka atau tidak suka, harus dilakukan untuk perdamaian Papua. Strategi dan mekanisme bagaimana harus dilakukan sangat tergantung pada konteks dan dinamika konflik yang ada, sebagimana di paparkan di atas.

Hanya saja, memang hal itu harus dilakukan dengan persiapan memadai disertai komitmen, pengetahuan dan sumberdaya memadai. Komitmen pemerintah pusat sangat diharapkan, dengan disertai dukungan dana, dan sumberdaya memadai, baik dari kalangan pemerintah pusat, daerah, masyarakat sipil, bisnis swasta, seperti PT. Freeport dan swasta nasional lainnya, dan pihak-pihak lain berkepentingan terhadap pembangunan papua. Namun demikian, berbagai langkah awal konsultasi dan terobosan diplomasi dalam misi ’setengah rahasia’, low profile, namun terarah disertai negosiator dan diplomasi yang handal, ke berbagai pihak, terutama dengan OPM dan kelompok-kelompok strategis lainnya, perlu dilakukan.

Langkah perdamaian ini tentu saja tetap berpijak pada konteks situasi konflik yang ada, menjawab situasi konflik di Papua, dengan segala permasalahannya sebagaimana disebutkan di atas, disertai dengan kemampuan manajemen konflik, strategi serta metode fasilitasi, negosiasi dan mediasi memadai. Beberapa persiapan landasan dasar (preparing the ground) berikut bisa dijadikan bahan pertimbangan untuk menyusun agenda dan strategi serta langkah-langkah perdamaian di Papua.

Pertama, dialog diselenggarakan dengan menekankan pentingnya dialog iklusif melibatkan semua pihak (all inclusive dialogue) berlandaskan pada Otonomi Khusus Papua, atau melakukan modifikasi atau perubahan atas UU Otonomi Khusus, terutama untuk mengakomodasi berbagai kepentingan yang ada, termasuk kepentingan OPM. Perdamaian tidak akan tercapai kalau hanya melakukan dialog dengan teman atau saudara, tanpa melibatkan musuh nyata. Dengan membuka kembali dokumen UU Otsus dan mengajak berbagai pihak, termasuk OPM, untuk mendialogkannya, akan membuka peluang berlangsungnya perdamaian di Papua

Kedua, perlu ditekankan pentingnya perumusan prinsip-prinsip pemerintahan daerah Otonomi Khusus Papua yang komprehensif dan koheren, sehingga ke dpan terbentuk pemerintahan Otsus Papua yang kuat dan bisa menjalankan mandatnya meningkatkan kualitas, taraf hidup, dan menjawab masalah-masalah ketidakadilan pembangunan di Papua.

Ketiga, penting dipersiapkan agenda dan mekanisme dialog perdamaian yang terrancang dan terdefinisi dengan jelas, meski terbuka dan sedikit lentur (flexible, but well defined), sehingga mampu mengakomodasi perkembangan di lapangan. Termasuk disini, penggunaan metode dan teknik diplomasi, negosiasi, mediasi, dan kalau perlu bisa dimungkinkan adanya lembaga monitoring Independen, beranggotakan baik dari kalangan tokoh nasional, negara ASEAN maupun Internasional, untuk mengawasi dan memastikan dialog berlangsung,

Keempat, pentingnya saling percaya, menjaga kepercayaan secara timbal balik (mutual trust) diantara berbagai pihak, untuk terselenggarakan resolusi konflik atas segala permasalahan yang timbul dalam revisi dan modifikasi UU Otsus Papua, demi terciptanya pemerintahan Otsus yang kuat dan perdamaian Papua ke depan.

Kelima, perlunya dilakukan demobilisasi senjata dan sebagai gantinya dilakukan mobilisasi demokratisasi sipil dalam politik, untuk mengimplementasikan Otsus termodifikasi, disertai komitmen politik dari pemerintah pusat mengakui bahwa Otsus merupakan semangat kejiwaan sesunggungnya (true spirit) dari pemerintahan dan masyarakat Papua. Pemerintahan daerah dan desentralisasi di Papua membutuhkan mobilisasi demokrasi sipil dan berkembangnya demokrasi politik untuk merealisasikan artikulasi dan kepentingan menjadi daerah otonom di wilayah Papua.

Sebagai penutup paparan ini, penulis ingin menyampaikan satu pelajaran penting dari perdamaian Aceh, bagaimana perdamaian Aceh berhasil berlangsung seperti sekarang, meskipun dulu selama 32 tahun dalam pemerintahan Orde Baru, hal itu tidak pernah terbayangkan akan berhasil merangkul GAM, bahkan salah satu tokohnya kini menjadi Gubernur seperti kita lihat sekarang. Dari pengalaman Aceh, dapat dikatakan bahwa:

’Proses perdamaian di Aceh menunjukkan bahwa kaitan antara determinasi diri dan demokrasi harus diperkuat, dalam teori maupun dalam praktek, dalam kebijakan maupun dalam proses. Kekerasan dan konflik bersenjata bukan didorong oleh diterminasi diri, tetapi oleh pelolakan atasnya. Penolakan diterminasi diri, dan bukan pencariannya, adalah apa yang mendorong konflik berubah menjadi pemberontakan. Hanya jika keinginan warga negara untuk menentukan nasib sendiri dihormati demokrasi dapat berkembang, dan hanya dalam demokrasi perdamaian bisa dicapai”.

Demikian itu berlangsung di Aceh selama ini, dan penulis yakin hal itu bisa dilakukan untuk Papua, dengan membuka peluang-peluang perdamaian, menggulirkan dialog perdamaian, dalam spirit demokrasi berpijak pada konteks, dinamika konflik, dan kebutuhan perdamaian Papua ke depan.

Maret 23, 2010 - Posted by | Dialog |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: