West Papua Today

Jangan pernah lupa dengan Sejarah

MASALAH PAPUA

Ramadhan Pohan .
TAK usah ragu mengatakan Papua adalah cermin Indonesia di luar negeri. Pencitraan Tanah Air banyak bertumpu pada Papua. Suka atau tidak, faktanya memang demikian. Ibaratnya, satu jarum yang patah atau jatuh di Papua, pasti mendapat reaksi dan respons tinggi di mancanegara.

Ribuan orang demo di Makassar atau Semarang, Surabaya, dan Medan belum tentu diliput atau diberitakan oleh media internasional. Tapi, kalau menyangkut Papua, segalanya seperti luar biasa. Tak usah sampai ribuan, beberapa orang saja yang demo atau ditahan terkait protes ini-itu, cukup menjadi alasan media cetak dan elektronik menempatkannya sebagai berita penting.

Lebih-lebih di Amerika Serikat atau di Belanda, Inggris, dan negara Eropa lainnya, kerap menempatkan isu Papua termasuk agenda prioritas dibicarakan oleh para politisi, parlemen, dan media massa mereka. Ada yang mengatakan ini disebabkan kuatnya lobi Papua di luar negeri, yang digencarkan para aktivis, jaringan, dan simpatisannya. Selain itu, ada faktor politis lain lagi, yakni isu Papua dijadikan komoditas politik demi popularitas dan alat tawar-menawar politik bersangkutan.

Segelintir anggota parlemen atau senator di luar negeri menjadikan isu Papua layaknya mainan politik. Yakni dengan cara mengangkatnya ke permukaan, bukan karena tujuan sejati membela kepentingan warga Papua, melainkan tujuan jangka pendek para politisi tadi.

Supaya seksi, kalangan asing baik politisi maupun media massa mancanegara menempatkan isu Papua layaknya isu penentuan nasib sendiri atau kemerdekaan. Sehingga, segala protes, baik itu tentang pekerjaan, pendidikan, kemiskinan, dan perekonomian selalu dikaitkan dengan isu memisahkan diri dari Indonesia, kemerdekaan. Seolah-olah ada upaya penindasan sistematis yang dilakukan Jakarta khusus terhadap Papua. Ini tentu tidak benar. Bahkan, kalangan Papua sendiri juga tak tertarik dengan paradigma atau jebakan pemikiran hitam-putih di atas.

Papua, dahulu pada era kolonial Belanda disebut Nugini Belanda atau Nederlands Nieuw Guinea, dan kemudian berubah menjadi Irian Barat sepanjang 1967-1973, dan kemudian namanya berubah lagi menjadi Irian Jaya. Adalah Soeharto yang meminta perubahan nama baru Irian Jaya bersamaan peresmian tambang tembaga dan emas Freeport.

Namun, pada 2002, nama itu pun diubah lagi menjadi Papua, sebagai konsekuensi logis berlakunya UU No 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua. Dalam perkembangan terakhir, sejak 2004, Provinsi Cenderawasih itu dibagi menjadi dua yakni Provinsi Papua untuk yang bagian Timur, dan Papua Barat yang di bagian Barat. Sempat ada keanehan juga karena nama Provinsi yang di bagian Barat ini disebut Irian Jaya Barat sebelum kemudian direvisi menjadi Papua Barat.

Nama terus berganti, tetapi orang Papua tetap merasa tertinggal dibandingkan dengan lingkungannya atau provinsi-provinsi lainnya di Tanah Air. Papua yang kaya dengan tembaga, emas, dan kekayaan laut dan potensi sumber daya alamnya ini tetap merasa miskin.

Penduduknya yang berjumlah sekitar 3 juga masih merasa kurang dan ingin mendapatkan kesejahteraan yang lebih baik dari yang ada sekarang.

Hentikan argumentasi rasis dan memecah-belah seperti menyebut mentalitas orang Papua yang tidak kondusif bagi perkembangan Papua. Menyebut orang Papua malas, tidak tekun dan foya-foya saat punya uang dan harta, jelas tuduhan dungu menyesatkan. Juara olimpiade dan banyaknya tunas cerdas di generasi muda Papua membuktikan tak ada yang kurang dengan potensi sumber manusianya, kalau bukan keunggulan.

Beri orang Papua kesempatan dan buka ruang sarana-prasarana pendukungnya. Ruang lega seperti itu bakal membukakan mata banyak orang tentang “mutiara manusianya” selain mutiara alam yang sudah dimilikinya. Papua bukan komoditas, tapi kekayaan, keindahan, dan keagungan.

Source : Jurnal Nasional

Maret 17, 2010 - Posted by | Opinion |

2 Komentar »

  1. kemerdekaan adalah hak segala bangsa, termasuk bangsa papua barat, dan papua barat sudah merdeka dan diakui secara the facto dan the jure.

    Komentar oleh Fredi tebai | Mei 9, 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: