West Papua Today

Jangan pernah lupa dengan Sejarah

Masa Depan Papua Ditangan Orang Papua

Kepulangan tokoh pendiri Organisasi Papua Merdeka (OPM), Nicolas Jouwe (NJ) ke Indonesia menjadi momentum penting bagi penyelesaian persoalan Papua.  NJ sadar bahwa perjuangannya untuk merdeka sudah usang dan tidak ada gunanya lagi, karena sadar masyarakat internasional tidak mengakui dan mendukung Papua terpisah dari Indonesia. NJ menilai kelompok atau aktifis gerakan separatis Papua baik dalam maunpun luar negeri hanya membuang waktu dan tenaga. Untuk itu NJ menghimbau agar lepaskan semua pemikiran untuk merdeka, sekarang mari bersama-sama membangun Papua. Dalam pertemuannya dengan Menko Kesra Agung Laksono, NJ mengatakan mendukung otonomi khusus dan Papua bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Untuk itu menghimbau, aktifis  papua yang masih diluar negeri agar berhenti mengkampanyekan kemerdekaan Papua.

Kampanye kemerdekaan dengan mendiskreditkan Indonesia di fora internasional hanya semakin memperburuk persoalan Papua. Papua membutuhkan pemikir yang dapat mengolah dan membangun Papua bukan provokator yang hanya bisa berteriak merdeka tanpa berbuat sesuatu untuk masa depan Papua. Isu merdeka yang selalu digunakan oleh kakak benny wenda, Jacob Rumbiak, Rex Rumakiek dan kroninya hanyalah ”komoditas” untuk memperoleh uang guna membiayai  hidup dan kepentingannya. Sadarlah Pemerintah Indonesia kini berupaya untuk membangun rasa saling percaya dan mensejahterakan mantan pejuang OPM.

Bentuk keseriusan pemerintah untuk membangun Papua sebagaimana pernyataan Menko Kesra ketika menghadiri upacara kembalinya 156 mantan aktifis OPM untuk kembali kepada NKRI pada 7 Agustus 2008 lalu. Dalam pidatonya Menko Kesra mengatakan bahwa pemerintah menyambut positip pernyataan kesetiaan mantan pejuang OPM dan akan memperlakukannya seperti warga negara Indonesia lainnya. Dengan melupakan konflik masa lalu, bersama-sama kita wujudkan pembangunan dan kemakmuran di Papua. Setelah melakukan perencanaan dan berkoordinasi dengan Pemprov Papua, pemerintah pusat telah menyiapkan dana Rp 40 miliar untuk pembangunan di tiga tempat, yaitu Balingga, Melagaineri dan Kuyage berupa 100 unit perumahan tipe 36, Puskesmas Pembantu (Pustu), balai desa, pembangkit listrik mikro hidro, demplot pertanian, rehabilitasi sekolah, sarana air bersih dan jalan desa. 100 unit rumah tersebut masing-masing  untuk 20 orang tokoh masyarakat, 15 orang kepala suku, 15 tokoh agama, dan 50 orang mantan kelompok yang berseberangan dengan NKRI. Untuk itu pihaknya menghimbau kelompok kelompok Tadius Yogi di Enarotali, kelompok Kelik Kwalik di Timika dan kelompok Guliat Tabuni di Puncak Jaya. Dalam penyelesaian konflik di Papua, pemerintah RI tidak lagi menggunakan pendekatan keamanan namun sebaliknya melalui mutual prosperity (pendekatan peningkatan kesejahteraan rakyat). Oleh karena itu, ke-156 orang mantan pejuang OPM masing-masing dari kelompok Agustinus Kaproka 50 orang dan kelompok Paulus Kalakdana 106 orang, berjanji untuk setia kepada NKRI dan akan berpartisipasi dalam pembangunan serta akan mematuhi peraturan dan hukum yang berlaku di Indonesia.

Sumpah kesetiaan sebagaimana yang telah dinyatakan oleh 156 orang mantan pejuang OPM merupakan sukses pemerintah dalam mengkondisikan mereka untuk kembali ke NKRI. Melalui pendekatan saling memakmurkan (mutual prosperity) diharapkan dapat tumbuh kepercayaan rakyat Papua terhadap keseriusan pemerintah Indonesia dalam membangun Papua. Sehingga dapat mengcounter segala bentuk provokasi kelompok atau NGO asing dalam maupun luar negeri yang terus mengeksploitasi kemiskinan, pelanggaran HAM, ketidakadilan dan pembangunan untuk memperoleh dukungan masyarakat internasional. Begitupula dalam mengatasi konflik, kiranya aparat tidak terprovokasi untuk melakukan kekerasan, sehingga tidak dijadikan alat bagi mereka untuk menyudutkan posisi Indonesia di masyarakat  internasional. Semoga kembalinya NJ ke Papua dapat menyadarkan tokoh/aktifis Papua lainnya baik yang didalam maupun luar negeri untuk kembali dan membangun Papua menjadi propinsi yang maju dan dapat sejajar dengan propinsi-propinsi lainnya di Indonesia

Januari 15, 2010 - Posted by | Autonomy |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: