West Papua Today

Jangan pernah lupa dengan Sejarah

Perseteruan Garuda vs Freeport

Timika- PT. Freeport, sudah dikenal sejak 40 tahun silam sebagai perusahaan tambang emas terbesar milik AS di Timika, Papua. Konon keberadaan Freeport di Papua, layaknya “negara dalam negara” karena tidak mudah bagi orang papua atau asing yang tidak berkepentingan untuk dapat masuk ke perusahaan tersebut terlebih dijaga oleh pasukan terlatih dari TNI dan Polri. Merasa sudah berpuluh tahun berada di Papua, seolah-olah Papua sudah seperti negaranya, sehingga hal-hal yang mempersulit kepentingan pejabat perusahaan, akan dibalas oleh Freeport dengan melakukan hal yang sama kepada kelompok, perusahaan atau birokrat. Persoalan antara maskapai penerbangan Garuda dengan Freeport, sebenarnya masalah kecil karena, Garuda tidak ada jadwal penerbangan ke Timika sehingga membuat kecewa Presiden Direktur Freeport Armando Mahler yang akan menuju Timika. Hal tersebut dibalas Freeport, dengan tidak memberikan ijin mengisi avtur kepada pesawat Garuda yang mendarat di Mozes Kilangin.

Menanggapi hal tersebut, pada 4 Januari 2010 PT Garuda Indonesia akan mengkaji kemungkinan membuka kembali penerbangan kembali ke Timika, Papua setelah  pengelola Bandara Mozes Kilangin, Timika, bersedia melayani lagi pengisian avtur . Namun Kepala Komunikasi PT. Garuda Indonesia, Pujo Broto mengatakan pihaknya akan melakukan evaluasi terlebih dahulu menyangkut pelayanan penerbangannya ke Timika, mengingat masih perlu dilaksanakannya penyelesaian aspek administratif dan pasokan bahan bakar yang disediakan hanya sebanyak 9.000 liter per hari.

Ketentuan IOSA (IATA Operational Safety Audit), yakni sertifikasi keselamatan penerbangan internasional, mensyaratkan bahwa selain bahan bakar yang diperlukan untuk menerbangi suatu rute tertentu, Garuda juga harus memastikan tersedianya bahan bakar cadangan yang diperlukan  pada saat  pesawat harus melakukan holding yakni berputar dahulu sebelum melakukan pendaratan atau apabila pesawat sampai harus mengalihkan tempat pendaratan.
Kebutuhan bahan bakar yang cukup juga sangat diperlukan berkaitan dengan kondisi cuaca di berbagai daerah atau kota tujuan yang sering tidak menentu saat ini.

Sementara Ketua Sementara DPRD Mimika Trifena Tinal mengaku prihatin dengan keputusan Garuda Indonesia yang menghentikan sementara penerbangan ke Timika. Trifena berharap maskapai milik pemerintah itu mengubah keputusannya dengan mempertimbangkan kepentingan masyarakat di Timika. Ia juga berharap, pihak Garuda Indonesia dan PT Freeport Indonesia selaku pemilik Bandara Internasional Mozes Kilangin Timika bisa menyelesaikan dengan baik miskomunikasi yang terjadi sebelumnya.

Hal yang sama juga disampaikan jubir Departemen Perhubungan, Bambang Supriyadi Ervan yang mengatakan pihaknya akan menjadi mediator dialog Garuda dengan Freeport dan mengharpkan agar Garuda tetap melayani rute penerbangan ke Mozes Kilangin Timika.

WPT/Herman, 7 Januari 2010

Januari 8, 2010 - Posted by | Freeport |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: